Photobucket
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

24 December 2003

Ideologi Suporter Sepakbola


Kamu pasti pernah tahu kan gimana aksi-aksi suporter sepakbola dalam mendukung klub atau timnas pujaannya? Mereka bela-belain datang ke stadion jika klub pujaannya bertanding. Ada yang memang bayar masuk ke stadion untuk nonton, nggak sedikit juga yang cuma ngeramein jalanan aja karena nggak punya ongkos untuk beli tiket pertandingan. Para suporter ini nyaris memiliki semua atribut klub kebanggaannya: kaos, slayer, stiker, bendera, dan sejenisnya. Selain itu, mereka ada yang rela mati demi membela klub pujaannya dan juga rela melakukan kerusakan dalam melampiaskan kegembiraan (apalagi kekecewaan).

Rasanya masih membekas dalam ingatan ketika final Liga Indonesia tahun 1998. Saat itu, ribuan suporter Persebaya yang dikenal sebagai bonek, alias bodo dan nekat, eh, maksudnya bondo (modal) nekat, turun ke jalanan begitu timnya berhasil menggulingkan Persib Bandung. Toko-toko dijarah, puluhan mobil dibakar. Bahkan aparat keamanan pun kerepotan mengawal mereka sampe Stasiun Senen. Keberingasan belum selesai, kawasan sepanjang jalur kereta Jakarta-Cirebon dihujani batu oleh para suporter brutal ini. Gila!

Nuansa ashobiyah (bangga dengan kelompok atau kesukuannya) juga kentara kok dalam polah para suporter. Saya pernah baca di jalan ada anak Viking yang di kaosnya ada tulisan: “Aing Persib, Sia Naon?” Hehehe.. itu artinya “gue Persib, elu apa?” Nggak ketinggalan suatu ketika ada suporter Persija yang saya lihat di kaos bagian belakangnya tertulis: “Kuserahkan hidup-matiku hanya untuk Persija” Waduh!

Sekadar tahu aja, Persib Bandung punya suporter berjuluk Viking (nama suporter ini di Italia juga ada, yakni basis suporternya Intermilan, Juventus dan Lazio yang dijejali para ekstrim kanan alias kelompok fasis). Persebaya dengan boneknya. Laskar Jakabaring (Sriwijaya FC) punya suporter Sriwijayamania. Ada yang serem lho, suporternya PSMS Medan, yakni Kampak FC. Eh, julukan klub yang rada keren juga ada: Badai Pengunungan Selatan (sebutan untuk Persiwa Wamena), dan nama suporternya Persiwamania.

Mungkin kita yang tinggal di Jabodetabek dan Jabar lebih sering denger nama suporter seperti The Jakmania (Persija), Kabomania (Persikabo Bogor), dan Viking (Persib). Masih banyak sebenarnya yang lainnya. Banyaknya nama-nama suporter tentu seiring dengan banyaknya klub yang tumbuh subur setelah kompetisi menggunakan sistem liga yang dimulai pada 1994 yang waktu itu langsung dijuarai Persib Bandung. Sebelumnya, di era galatama dan perserikatan klub yang bertanding dikit banget. Maka suporter yang ada juga biasa-biasa saja. Meski tetap terasa nuansa dukungan mereka terhadap klub kebanggaannya.

Sepakbola dan kebanggaan kelompok

Sepakbola seperti ditakdirkan bukan sekadar olahraga. Di Jerman dan Perancis sepakbola adalah kebanggaan teritorial dan pesta. Kalo di Inggris lain lagi, sepakbola adalah ritual dan hiburan. Tak heran kalo di Old Trafford, stadion klub berjuluk Setan Merah, Manchester United sering dibentangkan spanduk dalam ukuran raksasa: Manchester United is My Religion, Old Trafford is My Church. Mungkin ritualnya di stadion karena agamanya adalah MU. Ckckckck…

Bagaimana dengan di Brazil? Hmm.. ternyata sepakbola adalah jalan hidup. Jutaan orang menggantungkan hidupnya kepada sepakbola untuk melepaskan jeratan kemiskinan yang parah di negara tersebut. Lihat saja, talenta-talenta keren mereka hampir semuanya sukses bersama klub-klub raksasa di daratan Eropa. Mulai dari jamannya Pele (Edson Arantes do Nascimento) sampe yang muda belia macam “Si Bebek” Alexander Pato yang main di AC Milan.

Oya, kalo kita mau jeli, ternyata di Spanyol dan Italia, sepakbola adalah politik. Real Madrid adalah klub dengan basis suporter fanatik yang dihuni para ultra kanan yang fasis. Sevilla adalah bentuk perwakilan rakyat Andalusia. Sementara Barcelona adalah bentuk perlawanan rakyat katalan (Katalunya) yang sering diidentikan dijajah Spanyol (diwakili klub Real Madrid). Perseteruan bukan hanya terjadi antara Real Madrid dan Barcelona, ternyata pemerintah Spanyol melakukan “devide et impera” dengan membiarkan tumbuh subur klub Espanyol yang merupakan rival sekota Barcelona. Suporternya? Tentu saja berpotensi saling memusuhi. Selain itu di daerah Basque yang didominasi basis politik kelompok perlawanan ETA (Euskadi ta Askatasuna: Tanah air Basque dan Merdeka) yang diduga kuat mendukung Athletic Bilbao, maka pemerintah Spanyol menghidupkan klub kedua sebagai penyeimbang atau oposisi, yakni Real Sociedad.

Di Italia sendiri sudah tumbuh subur pertikaian politik dan kelompok-kelompok fasis. Mungkin itu udah dari sononya ya. Sebab, orang Italia kayaknya dari jaman dulu udah ‘hobi’ dengan persekutuan politik. Kamu mungkin pernah tahu mitosnya kisah Romus dan Romulus yang saling bunuh untuk merebut Roma. Maka, para tifosi (suporter) klub-klub di Italia secara sadar membawa atribut kesadaran politik ke dalam stadion. Bukan mustahil pada akhirnya bentrok fisik juga terjadi antar suporter. Terutama klub-klub yang basis suporternya sangat fanatik macam Juventus, Intermilan, AS Roma serta Lazio.Mereka rata-rata dihuni para Irriducibilli, suporter garis keras nan fasis bin rasis.

Apalagi saat ini, Liga-liga top Eropa telah dimulai dan di mana klub-klub unggulan sudah ada yang menunjukan kualitas juaranya. Pastinya emosi para suporter makin diaduk-aduk. Kita lihat saja nanti apa yang akan dilakukan para suporter ketika tim pujaan mereka saling ‘membunuh’ untuk menjadi juara.

ditulis oleh Vikry Pristian
Sumber: Infosuporter

Related Articles :


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 comments:

Post a Comment

TOP.ORG Topsites The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di Dadaku

FACEBOOK

Find us..

PhotobucketPhotobucketPhotobucket

BANNER

Photobucket Photobucket Photobucket

ADS

 

SETAN OREN Copyright © 2010 SetanOren.blogspot.com is Designed by SetanOren